Kamis, 09 Juni 2011

Tumbuhan pun harus di upacarai………


Saniscara keliwon wuku wariga bertepatan dengan tanggal 11 Juni 2011, menurut kepercayaan umat hindu dikatakan sebagai Tumpek Uduh atau Tumpek Pengatag. Dalam tumpek pengatag ini dilakukan upacara selamatan pada tumbuh – tumbuhan (otonan tetanduran). Upakara yang dibuat dalam otonan ini dinamakan Banten Pengatag yang didalamnya berisi Peras Daksina, Peras tulung sayut, ayaban, lis pengatag dan yang lainnya.

Selain upacara pengatag atau otonan tetnaduran, ada momentum penting dalam tumpek wariga ini. Tumpek pengatag merupakan awal di mulainya rangkaean Hari Raya Galungan yang waktunya selama 60 hari. Upacara selamatan pada tumbuhan ini bertujuan, memohon anugrah dari tuhan agar di berikan hasil tanaman yang berlimpah yang dipakai sebagai upacara pada saat galungan. “ Kak kak bin selae lemeng (25 hari) Galungan, Nged nged nyen mebuah pang ada alap anggo galungan, sisane kel adep ango bekel” begitu biasanya ucapan pada saat menjalan upacara otonan ini sambil memukul – mukulkan gagang pisau bersamaan dengan lis pengatag. Harapan dari umat agar hasil tanaman dapat dipakai sampai berakhirnya rangkean Hari Raya Galungan tersebut pada Budha Keliwon Pahang atau buda keliwon pegat tuwakan tepatnya tanggal 10 Agustus 2011.

Lontar Sundarigama yang memberi petunjuk tentang hari-hari raya Hindu di Indonesia menyatakan : Hari Tumpek pengatag adalah upacara selamatan untuk tumbuh – tumbuhan yang dimamfaatkan hasilnya. Tetapi bukan tumbuhannya yang di puja, namun pada hakekatnya adalah untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa yangmemberikan anugrahnya melalui tumbuh – tumbuhan. Demikian pula terhadap binatang, senjata-senjata, gamelan dan sebagainya. Mengapa membuat upacara selamatan terhadap hal-hal tersebut ? Dalam ajaran agama Hindu, keharmonisan hidup dengan semua makhluk dan alam semesta senantiasa diamanatkan. Manusia hendaknya selaras dan hidup hamonis dengan alam semesta,khususnya bumi ini dan dengan ciptaan-Nya yang lain, termasuk tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dalam ajaran Hindu, semua makhluk diyakini memiliki jiwa yang berasal dari Tuhan Yang Mahaesa. Doa umat Hindu sehari-hari (dalam puja Tri Sandhya) dengan tegas menyatakan : Sarvaprani hitankarah (hendaknya semua makhluk hidup sejahtra) .

Pelestarian lingkungan hidup

Agama Hindu di Bali telah manyatu padu dengan kehidupan masyarakat Bali. Bagi para pengamat sepintas, sangat sulit membedakan antara agama, adat, budaya, tradisi dan sebagainya yang telah sedemikian rupa terjalin bagaikan kain endek atau tenun ikat Bali. Seseorang sering menyatakan untuk kegiatan upacara agama disebut upacara adat. Di Bali tidak ada adat yang memiliki upacara. Semua upacara yang dilakukan di Bali sesungguhnya adalah upacara agama. Demikian pula seni budaya Bali, pada mulanya diabdikan hanya untuk keagungan Tuhan Yang Mahaesa, namun kini merupakan sesuatu yang menarik yang dapat dinikmati oleh wisatawan. Upacara-upacara keagmaan di Bali, khususnya upacara Tumpek membawa missi pelestarian lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan budaya. Pelestarian lingkungan alam ditujukan untuk keselamatan bumi pertiwi, tumbuh-tumbuhan dan binatang di dalamnya, selanjutnya pelestarian lingkungan budaya ditujukan antara lain kepada benda-benda seni seperti gamelan, wayang dan lain sebagainya. Upacara-upacara yang terkait dengan pelestarian lingkungan hidup ini disebut upacara Bhuta Yajna dengan berbagai jenis atau tingkatannya, Dari yang paling sederhana mempersembahkan sejumput nasi setelah memasak, sampai pula Tawur atau Caru Ekadasa Rudra yang dilakukan seratus tahun sekali. Apakah upacara-upacara sejenis ditemukan di India ? Penulis sepintas menemukan adanya benang merah antara India dan Bali. Sebagai dimaklumi bahwa ciri khas dari agama Hindu adalah dimana agama ini dianut, disana budaya setempat dilestarikan. Ibarat air sungai Gangga, kemana aliran sungai itu mengalir, di sanalah daerahnya berkembang dan tumbuh subur. Demikian pula halnya upacara-upacara yang kita jumpai di Indonesia, di India juga dilaksanakan misalnya Ayudhapuja, yakni upacara selamatan terhadap semua senjata, di Indonesia kita kenal dengan Tumpek Landep. Demikian pula untuk tumbuh-tumbuhan (Sankarapuja) dan lain-lain, misalnya Sarasvati, Sivaratri, Galungan-Kuningan dan sebagainya. Dari beraneka hari-hari raya itu tidak semua dirayakan dengan besar-besaran, ada dengan sangat sederhana bahkan ada hanya dengan melaksanakan Brata atau Upavasa (puasa). Demikian pula tentang pelaksanaannya di India Utara dan Selatan, Timur atau Barat sangat berbeda, apalagi dengan Indonesia atau Bali. Semua perbedaan itu disebabkan pula oleh faktor budaya umat pendukungnya.

Memaknai tumpek pengatag ini, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kehidupan, manusia tidak bisa lepas dari hasil alam khususnya hasil dari tumbuhan. Sehubungan dengan hal tersebut sebagai manusia kita harus mampu menjaga kelestarian alam terutama kelestarian tumbuhan. Jangan sampai karena keinginan untuk memenuhi kantaong pribadai ala mini dirusak.

Penebangan pohon dengan liar akan memberikan dampak negatif bagi kita semua. Disamping akan merusak isi alam, juga akan menimbulakan bahaya yang diakibatkan oleh gundulnya hutan. Dari bencana erosi yang selalu menghantui, tanah kering kerontang sampai banjir yang mengancam jiwa kita. Ancaman akan pemanasan global akan semakin mengancam kita akibat rusaknya hutan.

Semoga makna dari tumpek pengatag ini bisa membuka pikiran para pelaku illegal loging agar tidak melakukan perbuatannya lagi, demi terjaganya alam untuk rejeki generasi nanti.

Sumber :

http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=135&Itemid=79

Minggu, 15 Mei 2011

Menuju Yowana Paramartha Kota Denpasar



Teman"... sudah saatnya kini kita sedikit lebih Serius mengingat sebentar lagi bakalan dilaksanakan Loka Sabha Maha Semaya warga Pande Kota Denpasar yang artinya, Yowana diminta juga menjadi Formatur Kepengurusan untuk tahun 2011 ini.
Untuk itu berkenan kiranya Rekan"yang mengetahui siapa yang pantas dan aktif di Yowana selama ini bisa direkomendasikan untuk masuk di Kepengurusan Yowana Kota Denpasar Periode 2011.
Berikut format Pengurus Yowana Badung yang tiang ambil di halaman wargapande.org

STRUKTUR PENGURUS
YOWANA PARAMARTHA MAHA SEMAYA WARGA PANDE
KABUPATEN BADUNG MASA BAKTI 2010 – 2015

A. PENGURUS HARIAN
Ketua
Wakil Ketua
Sekeretaris 1
Sekeretaris 2
Bendahara

B. PENGURUS SEKSI – SEKSI

B.1. Seksi Kewidanaan (Organisasi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia)
Ketua
Sekretaris
Anggota (3/5)

B.2. Seksi Pendidikan dan Latihan
Ketua
Sekretaris
Anggota (3/5)

B.3. Seksi Sosial – Budaya
Ketua
Sekretaris
Anggota (3/5)

B.4. Seksi Sosial Ekonomi / Dana
Ketua
Sekretaris
Anggota (3/5)


B.5. Seksi Hubungan Masyarakat
Ketua
Sekretaris
Anggota (3/5)

Adapun maksud (3/5) itu adalah 3 sampai 5 orang per masing"Seksi.

Tujuan tiang memasukkan Nama Teman"di Thread ini tentu saja agar berkenan membantu kiranya siapa saja yang bisa dimasukkan sanak keluarga/semeton di lingkungan rumah maupun Dadia dan perkiraan tempat dimana ybs akan ditugaskan. Namun, yang paling tiang harapkan adalah Kesediaan rekan" (yang lahir dan berdomisili di Denpasar), agar ikut serta dalam Struktur Pengurus diatas.

Mahendra Sila, agar membantu saya untuk Semeton di Jalan Nangka Tainsiat.
Gus Hardy untuk lingkup Tonja.
Bli Gede Bayu untuk lingkup Tatasan.
Kadek Suwerta untuk lingkup Renon.
Mang Budhi untuk lingkup Pegok.
Yande untuk lingkup Pedungan.

Besar harapan tiang agar Yande berkenan naik jadi Ketum Yowana Kota Denpasar dan saya bersedia ngintil di duri. Entah menjadi Anggota Seksi latihan ataupun blogger pande. hehehe...

Menyimak notes dari beli pande baik ini sudah kiranya kita kembali merapatkan barisan, untuk konsentrasi pada “LOKA SABHA MSWP KOTA DENPASAR” yang akan dilaksanakan kira – kira bulan juni 2011 ini….

Adapun sumbanng saran saya kepada semeton yowana pande yang diberikan formatur dalam pembentukan yowana pande denpasar: beli pande baik, yande, mang budi, kadek swerta dan yang lainnya, agar mau meluangkan waktu untuk sosialisai ke pura – pura pande,serta semeton pande yang ada di kota mulai dari sekarang. Karena pada kenyataannya semeton generasi muda saja banyak yang tidak mengetahui apa itu YOWANA PARAMARTHA apa lagi para pengelingsir,, hal ini saya sarankan karena Di Kabupaten Badung kami melakukan Sosialisasi ke masing – masing pura Pande yang ada di Badung, dari bukit Pecatu samapai Petang.

Semoga semoga dan semoga Loka Sabha MSWP Kota Denpasar Berjalan Lancar ayo semangat saudaraku semua, khususnya semeton yowana kota denpasar.. Acara di Denpasar harus lebih meriah dibandingkan dengan Badung dan Tabanan

Salam PanBers..

Sabtu, 26 Maret 2011

Baru tau semeton ketika sembahyang di pura penataran pande besakih(Dokumentasi Tirta yatra SMA N 1 Baturiti,,, 22/2/2011







ketika orang tua tidak merestui cinta kita

Jatuh cinta dan memiliki seorang pacar memang menyenangkan dan bisa membuat hidup kita lebih indah dan tentunya lebih bersemangat lagi untuk menjalani hari demi hari . Tapi tidak semua kisah cinta itu berjalan mulus, selalu ada saja yang menghalangi atau bahkan membuat kisah cinta kita jadi lebih sulit untuk dijalani.

Dan mungkin yang paling sering terjadi adalah ketika orang tua tidak setuju atas hubungan cinta kita? Orang tua kita tidak mau menerima pilihan hati kita dan membenci orang yang jadi pacar kita.

Bila anda pernah mengalami seperti hal seperti ini, dimana hubungan cinta kita tidak mendapat restu dari orang tua, jangan kecil hati dulu dan jangan terburu-buru mengambil langkah yang bisa jadi, justru akan merugikan kehidupan kita.

Ketika orang tua tidak merestui hubungan kita, ada baiknya anda melakukan lagi cek dan rechek atas permasalahan yang sedang dihadapi, dan anda harus siap melihat dan menerima sisi baik maupun sisi buruk dari masalah ini.

Cek Motivasi Hubungan Cinta ini

Yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengetahui dulu motivasi apa yang menyebabkan kita memilih dia menjadi pacar kita? Apa tujuan dari hubungan yang kita jalin. Apakah tujuan kita memilih dia itu hanya untuk sekedar gila-gilaan, biar lebih dipandang sebagai ce/co gaul, atau mungkin ada motivasi lain yang lebih tinggi, misal karena kita menginginkan dia jadi istri/suami kita? Dengan mengetahui motivasi sebenarnya dari sebuah hubungan, kita bakal lebih mengetahui apakah kita emang benar-benar cinta sama dia? atau justru cinta yang kita rasakan ini cuma sekedar perasaan kagum sesaat saja? Atau malah yang parah lagi bila kita memilih dia, cuma ingin teman-teman kita memandang kita hebat karena bisa mendapatkan dia, yang notabene ce/co idaman?

Nah, bila kita telah mengetahui apa sebenarnya motivasi dari hubungan cinta kita, dijamin kita bakal lebih mudah untuk menghadapi ketidaksetujuan dari orang tua kita.

Apakah ini Benar-Benar Cinta?

Sekali lagi, tanya pada diri kita sendiri, apakah yang kita rasakan ini adalah benar-benar cinta? Apakah emang kita benar-benar sayang sama dia? Saat kita jatuh cinta pada seseorang, kita akan selalu memandang semua hal itu mungkin dan bisa dilakukan. Dengan kekuatan cinta, kita bisa lebih bersemangat, apa yang tadinya terasa tidak mungkin menjadi mungkin.

Tapi ketika tiba-tiba orang tua tidak setuju dengan hubungan kita, maka akan dengan mudahnya kita menyalahkan mereka, dan menganggap mereka tidak mengerti dengan perasaan yang kita alami.

Apa Motivasi dari ketidaksetujuan Orang Tua

Langkah berikutnya adalah mengetahui apa motivasi dibalik ketidaksetujuan orang tua atas hubungan cinta kita. Cari tahu latar belakang dari kehidupan orang tua kita dan kemudian kita bandingkan dengan latar belakang dari pacar kita, karena biasanya perbedaan latar belakang seringkali menjadi penyebab utama dari ketidaksetujuan orang tua. Ada banyak alasan yang bisa menyebabkan orang tua tidak merestui hubungan kita, dan itu semua harus kita cari tahu apa motivasi dari alasan-alasan tersebut.

Jika Orang Tua Kita Ternyata Salah

Orang tua juga manusia, tidak selamanya mereka selalu benar. Bila ternyata ketidaksetujuan mereka lebih dilatar belakangi karena masalah racis (perbedaan suku, warna kulit dst), kelas sosial, atau bahkan perbedaan pekerjaan (misal dia kurang mapan dibandingkan dengan kita). Bila itu semua yang menjadi alasan, maka sudah selayaknya kita berjuang mempertahankan hubungan cinta kita dan tidak begitu saja menyerah dan setuju dengan ketidaksetujuan orang tua kita.

Orang tua mungkin merasa khawatir bila ternyata hubungan cinta kita justru akan membuat kita sengsara, atau membuat kita dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Dan terkadang orang tua mempergunakan “aturan” atau “tata sosial” zaman dulu, yang terkadang kurang relevan dengan keadaan zaman sekarang.

Bila ternyata semua ini yang menjadi penyebab ketidaksetujuan orang tua kita, maka sudah sewajarnya kita bisa memberikan argumen yang tepat pada mereka untuk mempertahankan hubungan cinta kita. Bagaimanapun ketidaksetujuan yang disebabkan karena masalah rasis, kelas sosial sangat tidak bisa dibenarkan, meskipun itu semua datang dari orang tua kita sendiri.

Jika Orang Tua Kita Ternyata Benar

Tidak ada yang lebih mengenal kita, selain orang tua kita. Bahkan orang tua lebih tahu dan mengerti pada diri kita dibandingkan kita sendiri. Dan mungkin saja, karena kita sedang dibutakan oleh yang namanya cinta, hingga apa yang dilihat sebagai sisi buruk oleh orang tua kita justru kita tidak bisa menyadarinya. Yang kita lihat hanya sisi baik dan pandangan bahwa cinta itu selalu indah.

Kita harus ingat, orang tua sangat menyayangi kita dan mereka menginginkan supaya kita bisa bahagia dalam hidup ini. Jadi ketika mereka melihat sesuatu yang tidak beres dan merugikan, dalam hubungan cinta kita, tentu saja mereka bakal dengan tegas menolak dan tidak merestui hubungan kita.

Jika orang kita ternyata pernah mendengar bahkan tahu bahwa pacar kita tersebut punya perilaku yang buruk, dan mereka mengkhawatirkan kita bakal dilukai oleh pacar kita, tentu ada baiknya bila kita mencoba mendengarkan mereka, karena mungkin saja mereka ada benarnya.

Jika kita mulai berlaku liar, dan hidup kita mulai kacau, (misal kita mulai mempergunakan obat-obatan terlarang, minuman keras) karena pengaruh pacar kita, orang tua sudah pasti sangat tidak setuju dengan hubungan kita. Dan orang tua juga bakal tidak merestui, bila ternyata selama menjalin hubungan cinta, prestasi kuliah kita mulai menurun, atau kita mulai kehilangan sahabat dan teman kita. Sudah waktunya kita mendengarkan orang tua dan menghentikan hubungan cinta kita. Bagaimanapun, sebuah hubungan cinta yang terlalu banyak mengorbankan dan merugikan kehidupan pribadi kita, sudah merupakan sesuatu yang tidak menyehatkan bagi kelangsungan hidup kita.

Menemukan Jalan Keluar

Seperti dikatakan di awal tadi, cinta itu indah dan bisa membuat hidup lebih bersemangat dan lebih baik. Bila ternyata cinta yang kita jalani sekarang ini memang benar-benar membuat hidup kita lebih baik, lebih nyaman, dan pacar kita benar-benar sayang sama kita dan memberikan efek positif pada kehidupan kita, sudah sewajarnya kita mempertahankan hubungan cinta ini, meskipun orang tua tidak setuju.

Tapi ketika hubungan cinta dirasakan mulai “membahayakan” kehidupan pribadi kita, ada baiknya kita berpikir ulang, apakah perlu kita mempertahankan cinta ini? Perlu diingat baik-baik, kita tidak harus kehilangan hidup kita hanya karena kita jatuh cinta dan membina sebuah hubungan. Keluarga, teman dan kuliah atau sekolah kita, masih sangat penting bagi kehidupan kita. Membina sebuah hubungan cinta, tidak berarti bahwa kita mesti kehilangan itu semua. Bila kita mulai merasakan bahwa kita mulai kehilangan hidup kita, sudah waktunya kita berpikir untuk mengakhiri hubungan cinta ini.

Orang tua selalu mengharapkan yang terbaik buat kita, hadapilah ketidaksetujuan orang tua dengan kepala dingin dan sikap yang kooperatif. Boleh jadi mereka tidak suka dengan pacar kita, tapi suatu hari nanti mereka pasti akan bisa menerima hubungan cinta kita, bila kita mampu membuktikan bahwa apa yang kita lakukan bisa membuat kehidupan kita lebih baik dan lebih indah untuk dijalani.

Selamat Jatuh Cinta!

Minggu, 23 Januari 2011

Untuk sementara konsentarasi di fokuskan ke Pura Penataran Pande Tamblingan.


Sesuai dengan Bhisama Pande pertama, berupa bhisama agar Warga Pande tidak lupa menyungsung Pura Besakih dan Pura Penataran Pande di Besakih. Bhisama ini dipesankan dengan tegas oleh Mpu Siwa Saguna kepada Brahmana Dwala di Pura Bukit Indrakila sebagai berikut : ”Mangke hiyun ira turun ing Besaki. Didine ane Penataran Pande. Kita aywa lupa bakti ring kawitan ring Besakih”. (Sekarang kupesankan kepadamu, pergilah engkau ke Besakih. Disana ada Penataran Pande. Jangan lupa sujud bakti kepada kawitanmu di Besakih).

Sesuai dengan bhisama inilah warga pande yang ada di Bali bahkan seluruh Indonesia selalu inagt dan tangkil ke PuraPenataran Pande yang ada di pura besakih. Disamping itu pula di kawasan Danau Batur, kintamani Bangli juga ada Pura Penataran Pande yang bernama Pura Penataran Pande Batur. Sejak terbentuknya Pengurus Maha Semaya Warga Pande pada tahun 1971,Pura Penataran Pande di Besakih dan Batur ini ditetapkan sebagai pura penataran pande yang menjadi sungsungan warga pande dimanapun berada, disamping juga pura kawitan pande yang tersebar diseluruh bali, Lombok, lampung dan Sulawesi.

Bhisama ke lima menuturkan, ”Mangkana kengeta, aja lali wruhakena wwang sanakta kabeh. Kita sadaya ajwa lupa ring kajaten, duk ring Yambhu dwipa turun ka Yawa dwipa, tan len Sira Mpu Brahma Wisesa kawitan sira Pande kang ana wayeng Bali-pulina. Kita mangke asanak ring Pande kabeh. Aywa ngucap ming telu, sadohe ming ro. Tan ana sor tan ana luhur, tunggal pwa witnis nguni, kadi anggan ing pang ning kayu-kayu mara jatin ira. Ana awah ana juga tan pawah. Kalingania mangkana juga kita asanak, tan dai angadol kadang. Aja amumpang laku, aywa arok ring wwang hina-laksana”. (ingatlah selalu, jang lupa dengan seluruh keluargamu. Kita tidak boleh lupa dengan jati diri, sejak dari India, sampai ke pulau Jawa, tidak lain Mpu Brahma Wisesa leluhurmu termasuk yang ada di pulau Bali. Kalian semuanya keturunan Pande. Kalian adalah sedarah daging. Jangan merasa memindon (saudara tingkat III) sejauh-jauhnya adalah memisan (saudara tingkat II). Tidak ada yang lebih rendah, tidak ada yang lebih tinggi. Seperti pohon ada yang berbuah ada yang tidak berbuah (bernasib baik-tidak bernasib baik). Tetapi kalian semua tetap bersaudara, tidak boleh menjual saudara. Jangan berbuat tidak baik, jangan sombong pada orang yang tidak baik. Sesuai dengan bhisama kelima ini, warga pande selalu menyatakan bahwa dirinya adalah satu.

Dengan ditemukannya situs tamblingan oleh pan siwi yang dilanjutkan oleh dedes, konsentrasi di fokuskan ke tamblingan, tanpa mengesampingkan pura penataran pande besakih dan batur. Situs tamblingan merupakan peninggalan sejarah warga pande yang sering disebut Pande Bangke Mawong yang merupakan Pabrik Senjata Terbesar di dunia pada sekitar abad ke 13 – 14 masehi, yang kemudian dihancurkan oleh majapahit dibawah pimpinan Gajah Mada (Sejarah tentang situs tamblingan dapat dilihat di: www.pandebaik.com)

Setelah ditemukannya situs tamblingan ini, Dedes (Pak Gede Sutama) mulai merintis pembentukan pura bersama semeton pande dari celuk sukawati gianyar. Pasca terlaksananya Pesamuan Agung MSWP Bali Ke IV di Besakih tahun 2007 bertepat di museum neka ubud pada awal januari 2008, MSWP Bali memfokuskan pembangunan Pura di tepi danau tamblingan yang merupakan situs peninggalan purbakala ini.

Kurun waktu tahun 2008 – 2010 pembangunan Pura Penataran Pande Tamblingan dapat terwujud, berkat kerja keras seluruh semeton pande yang ada di nusantara ini. Tepatnya pada tumpek kelurut (Enam Bulan yang lalu) Bertepatan dengan Purnama Kasa (Purnama Pertama) dilaksanakan Upacara Melaspas yang di iringi dengan Karya Tapa, Yadnya lan Kerti ring Pura Penataran Pande Tamblingan sane megenah ring penepi ersanya, ulun danu, alas ukir tamblingan. Antusias warga pada saat itu sangat tinggi, sehingga karya pertama di tamblingan ini di katakana sebagai Tonggak Bersatunya Kembali warga Pande di Bali. Piodalan di Pura Penataran Pande Tamblingan ini ditetapakan satu tahun sekali yaitu pada purnama kasa.

Pada tanggal 9 Januari 2011, dalam acara rapat pertanggung jawaban panitia loka sabha III MSWP Badung yang bertempat di Pura dalem Pande Sibang Kaja Abiansemal Badung, SEKUM MSWP Bali Ir. Iketut Sunadra, M.Si. mengatakan: Sesuai dengan hasil paruman Pengurus MSWP Bali bersama pekandelan Pura Penataran Pande Tamblingan pada tumpek Kuningan Kemarin, telah diputuskan bahwa “konsentarsi saat ini di fokuskan ke Tamblingan tanpa melupakan Pura Penataran Pande Lainnya. Untuk itu saya mohon semeton semuanya hadir tanggal 19 januari 2011 di tamblingan dalam acara Nuasen Arca Ardenaresawi (Brahma saraswati) dan Paruman Sri Empu seluruh Bali yang di ketuai oleh Ida Sri Empu Nabe Taman Bali banggli.

Tanggal 19 januari 2011 bertepatan dengan purnama ke ulu paruman sri empu pande berjalan dengan lancar, meskipun dibawah cuaca yang tidak mendukung dan jalan menuju ke Pura yang sangat berlumpur dan licin. Rapat yang di hadiri hampir seluruh Sri Empi PandeSe-Bali, Penguruskan MSWP Provinsi, Pengurus MSWP Kabupaten Kota dan banyak semeton pande, rapat tersebut mencapai kesepakatan : “bahwa Pada Purnama Kasa rahina sukra paing uku kuningan (Penampahan Kuningan ) tanggal 15 Juli 2011 nanti akan dilanjutkan dengan KaryaPujawali, Mapeselang dan Mepedanan di Pura Penataran Pande Tamblingan”.

Sehubungan dengan kelanjutan karya tersebut, kami atas nama Pengurus Yowana Paramartha Warga Pande Kabupaten Badung mewakili Pengurus MSWP Provinsi Bali, mengajak semua semeton pande untuk kembali ikut berkonsentrasi kembali Ke Pura Penataran Pande Tamblingan. Semoga dengan Terlaksananya kelanjutan Karya Di Tamblingan ini dapat dijadikan tonggak kebangkitan paikjetan pasemeton Pande.

Info:

Saat ini dilaksanakan Pembangunan Pepelik, Bale Peselang dan Bale Gong. Untuk itu kami mohon dukungan dari semeton semuanya baik secara moral dan material

Sabtu, 15 Januari 2011

Megawati: Penegakan hukum kehilangan martabat

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menilai penegakkan hukum telah kehilangan martabatnya karena lebih mudah ditegakkan kepada kelompok lemah, akan tetapi takluk di bawah kaki kekuasaan.

Demikian penilaian yang dikemukakan oleh Presiden RI kelima itu melihat perkembangan hukum selama 2010 dalam keterangannya kepada wartawan hari ini. Megawati mengatakan tahun 2010 diwarnai oleh memburuknya kepatuhan pada hukum yang merupakan fondasi dari tertib sosial dan rasa saling percaya.

"Penegakan hukum telah kehilangan martabat dan substansi keadilan, sehingga hukum lebih mudah ditegakkan pada rakyat jelata, akan tetapi tidak berdaya ketika menghadapi mafia pajak Gayus Tambunan, kejahatan perbankan kasus Bank Century dan pencurian kekayaan alam,” ujarnya kita.

Dia menambahkan hukum seolah-olah ditampilkan sebagai garda terdepan untuk melayani keadilan. Namun begitu banyak kasus hukum yang dipamerkan tetapi tidak ada penyelesaian.

"Hal inilah yang menjadi masalah pokok kita selama 2010, hukum justru takluk di telapak kaki kekuasaan,” katanya.

Menurut Megawati, situasi hukum tahun lalu ditandai dengan praktik street justice karena munculnya kelompok dan individu yang merasa memiliki hak moral untuk bertindak atas nama hukum dan keadilan.

"Mereka membakar, mereka mengusir, mereka mengadili, bahkan ada yang terbunuh atas nama hukum, agama dan keadilan tanpa negara dapat berbuat banyak," ujarnya.

Lebih jauh Megawati mengatakan tahun 2010 mengungkapkan tantangan dan keprihatinan yang tidak kalah gentingnya. Ada paradoks yang luar biasa terhadap prestasi perekonomian kita.

Secara statistik, ujarnya, telah terjadi peningkatan prestasi makro ekonomi, akan tetapi di ujung ekstrim yang lain, terdengar suara rintihan bagian terbesar rakyat kelas bawah yang semakin terhimpit secara ekonomi dan tercampak secara sosial.

"Tingkat kemiskinan terus bertahan sementara angka pengangguran terus bertahta angkuh pada tingkat yang mencemaskan,” katanya.

Menurut dia, arah pembangunan dan pengelolaan ekonomi yang bertumpu pada mekanisme pasar telah membuat pemerintah lalai akan fungsi distribusi yang berkeadilan. "Sudah saatnya kita canangkan kembali cita-cita kemakmuran yang berkeadilan sebagai skala prioritas tertinggi," harap Megawati.

Terkait dengan kinerja kepemimpinan nasional, Megawati mengatakan bahwa sebagai bangsa, kualitas kepemimpinan nasional semakin tergerus oleh ketidakmampuan di dalam menentukan kemana bangsa ini akan diarahkan. Menurut dia, kepemimpinan nasional belum mampu membangun harapan serta optimisme terhadap masa depan bangsa.

"Saya paham betul bahwa tantangan yang dihadapi bangsa ini tidak kecil, tidaklah ringan. Karena itulah diperlukan konsolidasi dan mobilisasi semua kekuatan kolektif kita sebagai bangsa untuk bergotong royong menjawab tantangan tersebut,” katanya.

Konsolidasi tersebut, ujarnya, bukanlah soal bagi bagi kekuasaan. Namun, soal ideologi, soal masa depan bersama yang diidealkan, soal nation and character building dan soal keberpihakan pada rakyat,” ujar Megawati.(yn)
http://www.bisnis.com/index.php/hukum/korupsi/5565-megawati-penegakan-hukum-kehilangan-martabat